KarawangMu – Gempa doublet berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela dalam selisih 39 detik pada Rabu (24/6/2026), menewaskan 188 orang dan melukai 1.520 lainnya.
Pemimpin Sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, segera mengumumkan keadaan darurat nasional menyusul bencana yang juga memicu lebih dari 20 gempa susulan.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Rodríguez menyampaikan belasungkawa kepada mereka yang “dengan sedih kehilangan anggota keluarga.”
Rodríguez pun mengumumkan penutupan Bandara Internasional Maiquetia yang terletak di dekat ibu kota Caracas akibat “kerusakan serius” pada infrastrukturnya.
Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez mengonfirmasi korban jiwa mencapai 188 orang dan 1.520 luka-luka. Ia menyebutkan tawaran bantuan penyelamatan dan kemanusiaan terus berdatangan dari berbagai pihak.
Negara bagian La Guaira di utara Caracas terdampak paling parah. Warga berjalan tertatih-tatih di antara puing-puing, memanggil nama orang-orang terkasih atau berusaha menyelamatkan korban yang terjebak.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengidentifikasi bencana ini sebagai fenomena gempa langka. Dalam pernyataan resminya, USGS menyatakan: “Gempa bumi ini merupakan peristiwa kedua dalam rangkaian gempa doublet.”
“Gempa utama (mainshock) berkekuatan Magnitudo 7,5 ini didahului oleh gempa pendahuluan (foreshock) berkekuatan Magnitudo 7,2 yang terjadi 39 detik sebelumnya,” lanjut USGS.
Gempa pertama berkekuatan M 7,2 terjadi pukul 22.04 GMT, berpusat 21 kilometer sebelah barat kota pesisir Moron. Lokasi itu berjarak sekitar 160 kilometer di barat ibu kota Caracas.
Gempa kedua berkekuatan M 7,5 mengguncang area sekitar 45 kilometer dari pusat gempa pertama. Menurut USGS, kekuatan M 7,5 itu menjadikan gempa ini yang terbesar di Venezuela atau lepas pantainya sejak tahun 1900.
USGS memperkirakan dampak yang sangat serius dari kedua gempa tersebut. “Kemungkinan besar akan ada banyak korban jiwa dan kerusakan parah, serta dampaknya diperkirakan meluas,” sebut USGS.
Awalnya, USGS memperkirakan korban tewas bisa mencapai antara 10.000 hingga 100.000 jiwa. Pejabat lokal dan saksi mata melaporkan gedung-gedung roboh sementara operasi penyelamatan terus berlangsung.
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, memastikan situasi darurat di lapangan.
“Ada bangunan dan rumah yang roboh, dan kami sedang menangani situasi ini dengan mengerahkan segala sumber daya yang tersedia, baik dari segi keamanan maupun bantuan sipil,” katanya.
Saat gempa mengguncang, banyak warga Venezuela tengah berada di dalam rumah karena hari libur nasional. Hari itu memperingati kemenangan militer tahun 1821, peristiwa yang turut mengukuhkan kemerdekaan Venezuela dari Spanyol.
Astrid Ramirez, warga berusia 41 tahun dari Caracas bagian barat, menggambarkan kepanikan yang terjadi begitu gempa melanda.
“Begitu gempa mulai terasa, kami mendengar orang-orang berteriak. Semua orang berlarian menuruni tangga,” tuturnya.
Coro Martinez, warga berusia 56 tahun dari Caracas bagian timur, mengungkapkan dahsyatnya guncangan yang ia rasakan.
“Terdengar suara dentuman yang sangat keras. Barang-barang di dalam rumah berjatuhan, termasuk wadah-wadah di dalam kulkas. Saya belum pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya,” katanya.
Bagi Maria Romero, pensiunan berusia 80 tahun dari Caracas bagian selatan, gempa kali ini jauh lebih buruk dibanding bencana serupa pada 1967.
“Gempa bumi ini sangat mengerikan, bahkan lebih buruk daripada gempa bumi tahun 1967,” sebutnya. Polisi setempat kemudian membantu Romero mengungsi dari rumahnya.
Warga Caracas pernah merasakan gempa mematikan berkekuatan M 6,3 pada 1967. Guncangan kali ini jauh melampaui kekuatan gempa bersejarah tersebut.
Amerika Serikat menyatakan siap memberikan bantuan berskala besar. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan peran krusial militer AS dalam operasi bantuan tersebut.
“Departemen Perang harus memainkan peran logistik, peran logistik yang besar di sini karena mereka memiliki kemampuan untuk mendarat di tempat-tempat yang sulit saat ini,” kata Rubio kepada wartawan selama kunjungannya ke Bahrain, dilansir AFP.
“Jadi kami memiliki respons seluruh pemerintah. Ini akan besar, akan cepat, dan akan efektif,” lanjutnya.
Rubio menegaskan fokus utama saat ini adalah para korban.
“Saat ini kami khawatir ada orang-orang yang terjebak di reruntuhan. Kami ingin membantu mereka keluar,” katanya.
“Beberapa dari orang-orang itu memiliki kerabat yang tinggal di Amerika Serikat, tetapi apa pun yang terjadi, Amerika Serikat selalu menanggapi krisis kemanusiaan, terutama di belahan bumi kita sendiri,” ujar Rubio.
Pernyataan itu muncul pasca-penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Januari lalu. Rubio menyatakan tidak memikirkan dampak bantuan ini terhadap upaya stabilisasi Venezuela.
Swiss pun bergerak cepat. Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan pengerahan Swiss Rescue Chain yang terdiri dari 80 personel, delapan anjing penyelamat, dan 18 ton peralatan penyelamatan.
“Misi Swiss Rescue Chain adalah mencari, mengeluarkan, dan menyelamatkan korban yang tertimbun reruntuhan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Swiss.
Awalnya muncul kendala karena wilayah udara Venezuela tertutup bagi sebagian besar maskapai Eropa. Setelah berupaya keras mengatur penerbangan, Pemerintah Swiss memastikan pengiriman bantuan berlangsung pada Kamis malam waktu setempat.








