KarawangMu – Pendiri Borderless Healthcare Group, Dr. Wei Siang Yu, menyoroti tren gaya hidup sehat yang mulai populer di kalangan anak muda Indonesia. Meski demikian, tren tersebut dinilai masih belum merata di seluruh lapisan masyarakat.
Dr. Wei mengatakan, masih banyak kebiasaan dan pola hidup tidak sehat yang dilakukan masyarakat Indonesia. Konsumsi makanan tinggi lemak seperti gorengan menjadi salah satu sorotan utamanya.
Kesadaran untuk melindungi kesehatan organ tubuh lewat asupan makanan yang baik juga dinilai masih minim. Hal ini disampaikan Dr. Wei saat diwawancarai di Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026).
“Jadi, bagaimana mereka melindungi tubuh mereka, terutama bagaimana mereka melindungi bagian organ tertentu dan semua itu, mungkin orang Indonesia tidak begitu mengetahuinya. Oleh karena itu, untuk makanan, misalnya, ada banyak makanan gorengan. Terkadang gaya hidup mungkin juga sedikit berbeda,” kata Dr. Wei.
Dari Pola Makan hingga Mindset Umur Panjang
Dr. Wei menyebut gaya hidup sehat yang sudah diminati di Indonesia perlu diperluas. Salah satu caranya lewat penerapan mindset Longevity, atau pemikiran untuk hidup lebih lama dan lebih panjang.
Kesadaran semacam ini bisa menumbuhkan motivasi seseorang untuk menerapkan gaya hidup sehat. Tujuannya sebagai investasi kesehatan menjelang usia tua nanti.
“Bukan apa yang mereka lakukan sekarang ketika mereka sakit. Tetapi sebelum mereka sakit, mereka memikirkan umur panjang secara keseluruhan. Menua, tumbuh sehat, dan hidup lebih lama. Jadi, ini sebenarnya waktu yang sangat tepat untuk memperkenalkan, Longevity 5.0 di Indonesia,” ucap dia.
Penerapan mindset Longevity di Indonesia memang masih tergolong baru. Dr. Wei menjelaskan, konsep ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti makanan, atau yang ia sebut Longevity Food.
Nasi Padang menjadi salah satu contoh yang disinggungnya. Makanan favorit masyarakat ini dinilai bisa diadaptasi menjadi versi yang lebih ramah umur panjang lewat pemilihan lauk yang lebih sehat, tanpa menghilangkan cita rasa autentiknya.
Istilah baru seperti “longevity Nasi Padang” pun dinilai mampu meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap pilihan makanan sehat. Branding semacam ini disebut punya daya tarik berbeda dibanding istilah konvensional.
“Kalau orang ngomong low fat nasi Padang dengan longevity nasi Padang pasti lebih merasa, karena mungkin term baru, lebih merasa percaya dengan longevity nasi Padang,” jelas Dr. Wei.
Jamu Tradisional Disebut Kaya Peptida
Indonesia juga memiliki kekayaan tradisi jamu yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Mengingat berbahan dasar herbal, minuman tradisional ini secara alami mengandung peptida yang baik bagi tubuh.
Dengan dukungan dokter, chef, dan pakar nutrisi, Longevity Food disebut berpotensi menjadi tren baru penerapan gaya hidup sehat di Tanah Air. Kearifan lokal seperti jamu jadi modal yang sudah ada sejak lama.
“Ditambah lagi dengan kita orang Indonesia, dari dulu kita senang banget minum jamu dan padahal dalam jamu itu karena isinya herbal, di situ tuh juga ada peptides-nya,” tambah dia.
Motivasi Diri Jadi Kunci Konsistensi
Dr. Wei juga menyoroti bahwa pola hidup sehat hanya bisa diterapkan jika ada motivasi dan keinginan dari diri sendiri. Saran dari dokter saja dinilai belum cukup membuat seseorang konsisten menjalani gaya hidup sehat.
“Jadi kalau memang kalau cuma dokter yang ngomong mungkin dia cuma oke-oke saja pas di klinik. Tapi justru consumer-nya itu harus juga dengerin dari maybe their favorite chef, dari nutritionist-nutritionist, jadi consumer-nya itu bisa tahu gimana sih cara masak yang enak dan asik,” papar Dr. Wei.
Pendekatan ini dinilai bisa menjadi alternatif bagi masyarakat dalam menerapkan gaya hidup sehat, salah satunya lewat Longevity Food. Konsumen diharapkan lebih menikmati makanan sehat karena tahu makanan tersebut sehat, enak, dan tetap menyenangkan untuk dikonsumsi.












