Menu

Mode Gelap
Korban Gempa Venezuela Capai 188 Jiwa, Bantuan Internasional Berdatangan

Gaya Hidup

Bukan Cuma Berat Badan, Ini Beda Obesitas dan Skinny Fat Menurut Dokter

badge-check

Dokter spesialis gizi dr. Maryam ungkap faktor genetik cuma sumbang kurang dari 20% risiko obesitas. Gaya hidup sehat jadi kunci utama pengendaliannya. Perbesar

Dokter spesialis gizi dr. Maryam ungkap faktor genetik cuma sumbang kurang dari 20% risiko obesitas. Gaya hidup sehat jadi kunci utama pengendaliannya.

KarawangMu – Dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp.GK, menegaskan faktor genetik bukan penyebab utama obesitas. Banyak orang merasa sulit menurunkan berat badan karena menganggap tubuh gemuk sebagai faktor keturunan yang tidak bisa diubah.

Pernyataan ini disampaikan dr. Maryam dalam seminar media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing di Jakarta. Pengaruh genetik terhadap obesitas diperkirakan kurang dari 20 persen.

Selebihnya, kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi pola hidup dan lingkungan sehari-hari. Persentase ini jauh lebih kecil dari anggapan banyak orang selama ini.

“Jangan sampai berpikir karena seluruh anggota keluarga bertubuh gemuk, maka tidak mungkin menurunkan berat badan. Faktor genetik memang ada, tetapi pengaruhnya tidak besar,” ujarnya.

Obesitas merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari metabolisme, hormon, kondisi psikologis, hingga faktor keturunan turut berperan di dalamnya.

Kabar baiknya, banyak faktor tersebut masih bisa diubah. Pola makan sehat jadi salah satu kunci utama dalam menjaga berat badan ideal.

Aktivitas fisik yang cukup serta kebiasaan hidup sehari-hari juga berperan besar. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk kondisi tubuh seseorang.

“Faktor lingkungan dan gaya hidup adalah hal yang bisa kita perbaiki bersama,” katanya.

Keluarga memiliki peran besar dalam membangun kebiasaan sehat di rumah. Menyediakan makanan bergizi jadi langkah awal yang bisa diterapkan setiap hari.

Membatasi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak juga penting dilakukan. Mengajak seluruh anggota keluarga aktif bergerak melengkapi upaya pencegahan obesitas ini.

Obesitas sering kali dianggap hanya masalah penampilan semata. Padahal kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.

Diabetes, tekanan darah tinggi, hingga gangguan kolesterol mengintai penyandang obesitas. Risiko ini tidak bisa dianggap remeh oleh siapa pun.

Obesitas juga dapat memengaruhi kesehatan reproduksi dan kesuburan seseorang. Dampaknya bahkan merambah hingga ke kondisi kesehatan mental.

Berbagai penelitian menunjukkan orang dengan obesitas lebih rentan mengalami gangguan citra tubuh. Kurang percaya diri dan depresi kerap menyertai kondisi ini.

Gangguan pola makan juga menjadi risiko tambahan yang mengintai. Dampaknya bisa memengaruhi produktivitas kerja dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Dr. Maryam mengingatkan, obesitas tidak hanya dilihat dari angka timbangan. Jumlah lemak dalam tubuh justru jadi indikator yang lebih penting untuk diperhatikan.

“Obesitas itu bukan sekadar kelebihan berat badan, tetapi kelebihan lemak tubuh,” jelasnya.

Seseorang yang terlihat kurus pun belum tentu terbebas dari risiko obesitas. Ada kondisi yang dikenal sebagai skinny fat dalam dunia medis.

Skinny fat menggambarkan tubuh yang tampak langsing tetapi memiliki persentase lemak tinggi. Massa otot pada kondisi ini justru tergolong rendah.

Setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda satu sama lain. Program penurunan berat badan karena itu sebaiknya dilakukan secara personal berdasarkan pemeriksaan yang tepat.

Tujuannya bukan hanya menurunkan angka di timbangan saja. Menjaga massa otot tetap optimal dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh menjadi sasaran yang lebih utama.

Bagi keluarga, membangun pola hidup sehat bersama sejak dini menjadi langkah terbaik mencegah obesitas. Membiasakan sarapan sehat bisa menjadi titik awal yang sederhana.

Memperbanyak konsumsi buah dan sayur turut melengkapi pola makan keluarga. Membatasi makanan olahan juga perlu diterapkan secara konsisten.

Meluangkan waktu berolahraga bersama keluarga dapat menjadi investasi kesehatan jangka panjang. Kebiasaan ini bermanfaat bagi seluruh anggota keluarga, bukan hanya satu individu saja.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga medis profesional. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter spesialis gizi klinik untuk penanganan yang sesuai.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Manfaat Bersepeda Bersama Komunitas, Sehat Sekaligus Ramah Lingkungan

26 Juni 2026 - 15:44 WIB

Komunitas bersepeda kian marak di berbagai daerah sebagai bagian gaya hidup sehat. Selain bugar, aktivitas ini juga ramah lingkungan dan kurangi kemacetan.

Mengenal Longevity 5.0, Tren Hidup Sehat yang Mulai Dikenal di RI

26 Juni 2026 - 15:39 WIB

Dr. Wei Siang Yu kenalkan konsep Longevity di Indonesia lewat Longevity Food seperti nasi Padang sehat dan jamu herbal kaya peptida.
Trending di Gaya Hidup