Menu

Mode Gelap
Korban Gempa Venezuela Capai 188 Jiwa, Bantuan Internasional Berdatangan

Teknologi

Hadapi Sanksi Chip AS, China Justru Rebut Puncak Top500 Superkomputer

badge-check

Superkomputer LineShine China geser El Capitan AS dari puncak Top500 dengan performa 2,2 exaflop, tanpa bergantung pada GPU Nvidia atau AMD. Perbesar

Superkomputer LineShine China geser El Capitan AS dari puncak Top500 dengan performa 2,2 exaflop, tanpa bergantung pada GPU Nvidia atau AMD.

KarawangMu – China kembali menjadi “raja” superkomputer dunia. Sistem bernama LineShine bikinan China berhasil merebut kembali posisi puncak dalam daftar superkomputer tercepat dunia Top 500 yang dirilis Juni 2026 ini.

Posisi puncak ini sebelumnya diduduki oleh Amerika Serikat (AS). Daftar Top500 sendiri rutin diperbarui dua kali setahun sejak 1993 sebagai acuan global ranking superkomputer berdasarkan performa komputasinya.

Pencapaian ini menjadi comeback pertama China ke peringkat satu dunia sejak 2017. Posisi teratas sebelumnya ditempati El Capitan, superkomputer milik Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) di California, AS.

Berdasarkan pengujian “Linpack” yang menjadi standar Top500, LineShine mencatat performa sebesar 2.198 petaflop atau sekitar 2,2 exaflop. Sebagai perbandingan, El Capitan mencetak performa 1.809 petaflop.

Dengan capaian tersebut, performa LineShine berada di kisaran 21 persen lebih tinggi dibanding pesaing terdekatnya dari AS. El Capitan kini dinobatkan sebagai superkomputer tercepat kedua di dunia.

Unggul di Benchmark Aplikasi Ilmiah

Keunggulan LineShine tidak hanya terlihat dalam pengujian Linpack. Superkomputer tersebut juga menempati posisi pertama dalam pengujian High Performance Conjugate Gradient (HPCG).

HPCG merupakan benchmark yang dirancang untuk mengukur performa sistem saat menjalankan aplikasi ilmiah dunia nyata. Pada pengujian ini, LineShine mencetak skor 22,00 HPCG-Petaflop/s.

El Capitan berada di posisi kedua dengan skor 17,41 HPCG-Petaflop/s. Selisihnya cukup signifikan dibanding capaian LineShine.

Di bawah keduanya terdapat superkomputer Jepang, Fugaku, dengan skor 16,00 HPCG-Petaflop/s. Frontier milik AS melengkapi empat besar dengan skor 14,05 HPCG-Petaflop/s.

Benchmark HPCG kerap dianggap lebih merepresentasikan performa nyata dibanding Linpack. Pengujian ini mengetes kemampuan sistem menangani perhitungan yang umum dipakai dalam simulasi ilmiah dan teknik.

Menang Tanpa Bergantung pada GPU

Salah satu aspek yang membuat LineShine menarik adalah pendekatan arsitekturnya. Mayoritas superkomputer modern saat ini mengandalkan kombinasi prosesor (CPU) dan pengolah grafis (GPU).

GPU menjadi komponen penting karena mampu menjalankan banyak operasi secara paralel. Komponen ini sangat efektif untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) maupun simulasi ilmiah.

Namun LineShine mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih menggunakan GPU terpisah seperti Nvidia atau AMD, para insinyur China mengintegrasikan fungsi-fungsi komputasi ala GPU langsung ke dalam chip utama mereka.

Desain tersebut memungkinkan sistem menangani komputasi matriks dan vektor dalam skala besar. Pendekatan ini dilakukan tanpa harus bergantung pada akselerator eksternal.

Chip LineShine dibangun menggunakan prosesor LingKun LX2 dan akselerator LingQi yang dikembangkan di China. Sistem tersebut memiliki sekitar 13,79 juta inti komputasi (cores) yang tersebar di 90 kabinet perangkat keras.

Chip yang digunakan mengadopsi arsitektur instruksi dari Arm Holdings, perusahaan desain chip asal Inggris yang kini dimiliki konglomerat Jepang SoftBank. Teknologi Arm selama ini dikenal luas digunakan pada smartphone.

Kini, teknologi Arm juga banyak dipakai di pusat data oleh perusahaan seperti Nvidia, Amazon, dan Qualcomm. Meski demikian, pengembang LineShine belum mengungkap perusahaan yang memproduksi chip tersebut maupun teknologi manufaktur yang digunakan.

Jadi Bukti Menghadapi Pembatasan AS

Pencapaian LineShine ini menarik karena terjadi di tengah ketatnya pembatasan ekspor teknologi dari AS ke China. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS membatasi penjualan GPU AI canggih dari Nvidia dan AMD ke China.

AS juga menerapkan berbagai aturan untuk membatasi akses China terhadap teknologi semikonduktor mutakhir. Pembatasan ini rupanya tidak menghentikan langkah China di sektor superkomputer.

Saat ini, LineShine digunakan untuk berbagai proyek penelitian berskala besar. Salah satunya adalah simulasi sistem Bumi yang mencakup atmosfer, lautan, daratan, dan lapisan es secara terintegrasi untuk mendukung riset iklim.

Selain itu, sistem ini juga disebut dipakai untuk menjalankan simulasi kompleks mengenai otak manusia. Simulasi semacam ini membutuhkan kapasitas komputasi sangat besar, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The New York Times.

FAQ

Q: Apa itu LineShine?

A: LineShine adalah superkomputer buatan China yang berhasil merebut posisi puncak daftar Top500 superkomputer tercepat dunia edisi Juni 2026, menggeser El Capitan milik AS.

Q: Seberapa cepat performa LineShine dibanding El Capitan?

A: LineShine mencatat performa 2.198 petaflop pada pengujian Linpack, sekitar 21 persen lebih tinggi dibanding El Capitan yang mencetak 1.809 petaflop.

Q: Apa yang membuat arsitektur LineShine berbeda dari superkomputer lain?

A: LineShine mengintegrasikan fungsi komputasi ala GPU langsung ke dalam chip utamanya, yaitu prosesor LingKun LX2 dan akselerator LingQi, tanpa bergantung pada GPU eksternal seperti Nvidia atau AMD.

Q: Untuk apa LineShine digunakan?

A: LineShine digunakan untuk simulasi sistem Bumi yang mendukung riset iklim, serta simulasi kompleks mengenai otak manusia yang membutuhkan kapasitas komputasi sangat besar.

Q: Kapan terakhir kali China menduduki posisi puncak Top500 sebelum LineShine?

A: China terakhir kali menempati posisi pertama Top500 pada 2017, sebelum AS mendominasi selama sembilan tahun terakhir.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

NSA Blokir AI Mythos 5 Anthropic, Trump Jadi Pemicu Utama Konflik

26 Juni 2026 - 16:24 WIB

NSA kehilangan akses ke AI Mythos 5 Anthropic usai Trump berlakukan pembatasan ekspor. Simak kronologi konflik yang bermula sejak Februari 2025.

Anthropic vs Alibaba: Tudingan Distilasi Terbesar Sepanjang Sejarah

26 Juni 2026 - 16:00 WIB

Anthropic tuduh Alibaba curi kemampuan AI Claude lewat 28,8 juta percakapan dan 25.000 akun palsu, surat resmi dikirim ke Komite Perbankan Senat AS.
Trending di Teknologi